Rudak Rusia
Rusia dan China Kembangkan Rudal Hipersonik, Jadi Mimpi Buruk Eropa

droidif.com, Bagai mimpi buruk bagi Eropa, beberpa media Jerman mengabarkan pengembangan senjata hipesonik Rusia dan China. Dilansir oleh Express.co.uk, Gerhard Hegmann, seorang jurnalis di Die Welt, mengatakan adopsi rudal hipersonik Moskow dan Beijing menandai “spiral ancaman”. Ketakutan terjadi pada pangkalan militer AS di Ramstein, di mana Jerman menggambarkannya sebagai kekuatan destruktif persenjataan Rusia.

Hegmann mengatakan, pangkalan AS itu disiagakan ketika sebuah kapal selam Rusia melakukan uji rudal balistik antarbenua (ICBM). Sementara AS terus-menerus waspada terhadap ancaman, dia menambahkan senjata hipersonik yang hampir tidak mungkin untuk dicegat.

“Dengan munculnya apa yang disebut senjata hipersonik, rantai peringatan yang ada tentang peluncuran rudal dan sistem rudal anti-balistik menjadi tidak berguna dan waktu untuk bereaksi terhadap peluncuran berkurang secara drastis,” jelas Hegmann.

Rudal hipersonik diduga akan merusak keseimbangan kekuatan antara negara-negara nuklir. Para ahli menunjukkan bahwa Rusia dan China memimpin dalam pengembangan senjata hipersonik, tetapi mengatakan AS berkomitmen untuk mengejar ketinggalan.

Departemen Pertahanan AS mengumumkan awal tahun ini mereka telah mendirikan pangkalan baru untuk mengembangkan senjata hipersonik. Australia juga mengumumkan bahwa mereka akan bekerja sama dengan AS untuk mengembangkan rudal jelajah guna melawan China dan Rusia.

“Kami akan terus berinvestasi dalam kemampuan-kemampuan canggih untuk memberi Angkatan Pertahanan Australia lebih banyak pilihan untuk mencegah agresi terhadap kepentingan Australia.” Ujar Menteri Pertahanan Australia Linda Reynolds.

Dengan kemajuan yang dimiliki Amerika tidak membuat pusing. Mereka memiliki pertahanan yang efektif terhadap senjata hipersonik. Rusia telah mengembangkan sistem rudal S-500 Prometey untuk mencegat persenjataan hipersonik, dan juga memiliki “rudal pencegat tak dikenal yang dimodifikasi” menurut para analis.

Anggota Dewan Negara China dan Menteri Luar Negeri Wang Yi mengatakan kepada media pemerintah China, The Global Times, hubungan Beijing dengan Moskow harus lebih stabil karena dunia menjadi “lebih bergolak”. Penyerangan terhadap Amerika Serikat juga karena penindasan terhadap China dan Rusia, setelah panggilan telepon dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here